Inikah Rasanya, Menjadi Penyintas Covid-19 Dengan Gejala

20.00.00

Dear Bloggies,

“Tuhan, saya masih ingin hidup, jangan sampai saya mati sekarang…”

Tahun 2020 ini mungkin bagi sebagian besar orang di seluruh dunia menjadi tahun terberat, dimana pandemi global Corona merenggut jutaan nyawa orang di dunia dalam waktu kurang dari satu tahun. Berbagai macam sektor bisnis terkena imbas, ribuan perusahaan pailit dan jutaan orang kehilangan mata pencaharian mereka. Beberapa orang yang saya kenal ada yang kehilangan anggota keluarga mereka, dan tidak sedikit orang-orang disekitar saya satu per satu dinyatakan positive terjangkit virus ini, tidak terkecuali saya.

Ya, benar, menjelang akhir tahun saya dinyatakan positive virus Covid-19 setelah sebelumnya mengalami gejala demam hebat. Kurang lebih 4 hari saya demam dengan suhu yang tinggi pada malam hari dan ketika pagi hari, suhunya turun normal. Indera perasa saya mulai hilang karena demam yang tinggi, disusul dengan batuk-pilek yang membuat dada saya nyeri. Saya konsumsi berbagai macam obat penurun panas dan obat flu, tidak ketinggalan kompres untuk menurunkan suhu saya. Firasat saya sudah tidak enak saat itu. Minggu pagi tanggal 29 November 2020, saya terbangun pukul 4 pagi dan saya sudah tidak bisa berpikir jernih, saya mulai menghubungi satgas covid di kantor saya.

Suhu badan sebelum masuk ke IGD 

Sempat tidak bisa dihubungi, akhirnya saya menghubungi ibu manajer saya yang qadarullah saat itu sedang standby, saya diarahkan untuk masuk ke IGD RS PHC Surabaya untuk swab test karena Rumah Sakit perusahaan di kota Malang sudah penuh untuk pasien covid. Dengan tenaga seadanya, saya mengontak salah satu teman kantor saya, qadarullah dia bisa membantu saya, menemani saya ke IGD sampai mengurus administrasi nya (susahnya anak rantau ketika jatuh sakit). Saya langsung di infus, diambil sample darah dan di swab oleh perawat. Sementara menunggu hasil, saya masuk ke ruang observasi sementara. Hati saya tidak tenang, antara takut, panik dan sedih, campur aduk, karena saat ini saya berada di posisi sebagai suspect atau terduga positif melihat gejala nya. Benar saja, pukul 9 malam, hasil swab keluar dan saya dinyatakan positif covid. Saya berusaha terlihat tenang, saat harus dipindahkan ke ruang perawatan intensif covid.

Daftar obat dari Rumah Sakit
Wajah saya sudah pucat saat itu, dibantu filter, saya mengirimkan kabar saya ke keluarga

Saya menghubungi keluarga saya, dan seperti yang saya duga, mereka sangat kaget, perasaan campur aduk terlihat di wajah mereka namun mereka berusaha menyembunyikan seolah tidak ingin membuat saya semakin sedih. Nafsu makan saya hilang, dan setiap malam saya menahan sakitnya tangan saya ketika cairan antibiotik yang pekat masuk ke pembuluh darah tetes demi tetes. Jari-jari saya rasanya mau putus dan bergetar hebat karena sakit sekali. Saya berusaha menahan tangis dan mengafirmasi positif diri saya. Pada hari ketiga, saturasi oksigen saya yang mulanya 98-99% tiba-tiba turun drastic menjadi 90%. Dada saya bagian diafragma agak terasa nyeri ketika saya batuk, akhirnya perawat memberikan selang oksigen pada saya dan menegaskan untuk tidak melepas selang oksigen tersebut kecuali saat ke kamar mandi. Pikiran saya kalut dan tanpa terasa saya menangis di tengah malam, saya berdoa “Tuhan, saya masih ingin hidup, jangan sampai saya mati sekarang…saya bisa, saya kuat, saya harus sembuh,”.

Saya berusaha menghabiskan makanan dari rumah sakit meskipun pada akhirnya saya memuntahkannya kembali, keluarga saya mengirimkan makanan kesukaan saya melalui aplikasi online dan saat itu entah kenapa rasanya hambar, dan saya tidak bisa makan terlalu banyak. Tuhan sangat teramat baik pada saya, karena keadaan saya berangsur membaik meskipun saturasi oksigen masi di angka 94%. Antibiotiknya sudah mulai bekerja dan alhamdulillah saya sudah bisa lepas infus. Hasil swab kedua saya saat itu masih positif dengan angka CT 27, dimana standar RS PHC adalah lebih dari 38 agar bisa dinyatakan negatif dari covid. Setelah selama 6 hari menjalani perawatan intensif di ruang intensif covid, kemudian saya dipindahkan ke ruangan isolasi lain dalam kondisi yang sudah baik dimana saya tidak perlu lagi menggunakan bantuan selang oksigen lagi.

Saat visite dokter spesialis paru-paru yang menangani saya, beliau selalu berpesan kepada saya untuk tetap semangat, positive thinking, dan makan yang banyak. "Virus itu tidak ada obatnya, kamu harus bisa yakin untuk sembuh dan makan yang banyak, jangan sampai stress karena bisa mempengaruhi daya imun kamu" pesan dokter. Pesan itulah yang selalu saya ingat sampai sekarang. Kalau di runut sebelum terinfeksi covid, mental saya tidak dalam kondisi yang baik, mimpi buruk yang dulu sudah hilang, tiba-tiba muncul lagi. Setiap malam saya menangis karena bayangan gelap tentang masa lalu itu datang kembali, membuat kondisi psikologis saya down lagi, nafsu makan turun dan sering mual. 

Qadarullah, saya dinyatakan negatif dari covid setelah dirawat di Rumah Sakit selama 15 hari. Seluruh biaya pengobatan saya GRATIS ditanggung oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes), saya tidak tahu prosedurnya seperti apa, yang saya tahu, dokter di IGD menjelaskan apabila saya positif maka saya akan dirawat dan semua biaya ditanggung oleh Kemenkes. Mungkin untuk informasi biaya seperti ini kalian bisa menanyakan ke pihak Rumah Sakit karena dari kabar yang saya dengar ada beberapa teman saya bercerita bahwa teman disekitar mereka harus membayar biaya perawatan secara mandiri. 

Saya sangat bersyukur, dan ketika dalam perjalanan pulang ke kamar kos tengah malam bersama teman saya, saya menghirup dalam dalam udara malam itu, karena sudah 15 hari saya tidak pernah keluar dari kamar isolasi. Saya bersyukur, teramat sangat sampai saya menangis setelah selesai bersih diri sebelum tidur, Tuhan baik sekali pada saya, untuk kesekian kalinya..ke futur-an saya dibalas oleh kebaikan yang berlipat oleh Nya. Tahun 2020 saya lebih kacau dari tahun sebelumnya, namun Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun ini. Terimakasih Tuhan…


PS: Untuk siapapun yang masih tidak percaya bahwa covid itu ada, kalian belum melihat langsung betapa besarnya perjuangan tenaga medis, bahkan banyak diantara mereka yang jatuh ditengah pandemi ini. Kalian belum melihat langsung pasien dengan intubator dan ventilator, berjuang sekuat tenaga untuk bisa bernafas, bertahan hidup untuk orang terdekat mereka. Covid is REAL! Jika kalian masih tidak percaya, itu hak kalian, setidaknya patuhi protokol kesehatan untuk melindungi orang disekitar kita. Stay safe all..

 

 

You Might Also Like

0 komentar