Road Trip Perdana Surabaya-Bali Budget Kurang dari 600 Ribu!! (PART 1)

14.11.00

Dear Bloggies,

“Gimana kalo kita road trip ke Bali mas”

“Halah, paling yo mongseng


Pura Bedugul

Entah kenapa tercetus ide road trip ke Bali sesaat setelah acara buka bersama bareng ENT crew di bulan puasa kemarin. Kami sempat pesimis untuk mewujudkan road trip kali ini, namun nyali nekat muncul untuk tetap menyusun rencana road trip gila ini di tengah pandemi. Saya, Mas Aul, Ifal dan istrinya, Alif, menyepakati untuk melakukan road trip ke Bali.

Kami pikir kurva pandemi covid sudah melandai, sehingga kami dengan santainya melakukan perencanaan satu bulan sebelumnya. Bukan tanpa alasan, tapi memang karena dua orang dari anggota road trip ini harus mengambil izin cuti satu bulan sebelumnya. Cuti di approve, barulah kita menyusun itinerary dan akomodasi selama perjalan kita nanti.

Kami memilih penginapan yang dekat sekali dengan pantai kuta, dan terlebih harganya sangat sangat murah. Nama penginapannya Cara Cara Inn, kami berencana menginap selama 4 hari 3 malam disana. Cukup merogoh kocek sebesar 800 ribuan untuk 2 kamar, karena kami juga mendapat tambahan diskon promo kartu kredit, makanya harga penginapan sangat murah. Satu orang hanya perlu membayar 200 ribuan saja untuk 4 malam. Tipe kamarnya bunk bed minimalis, tapi lucu banget. Desain interior kamar nya compact dan useful, trus ada connecting door nya pula, untuk memudahkan kami berkoordinasi maupun bercengkrama selepas perjalanan.

Model tempat tidur bunk bed

Toilet nya compact, dan toiletriesnya lengkap

Lobby Cara Cara Inn yang tampak sepi

Penginapan sudah di pesan, tinggal menunggu tanggal berangkat saja. Satu minggu menjelang keberangkatan, beredar berita kurva kasus covid naik lagi dan akan diberlakukan lockdown dengan tajuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat alias PPKM di tanggal keberangkatan kita ke Bali. Dag dig dug hati ini karena galau apakah lanjut terus atau tidak, akhirnya hati kami mantap karena jatah cuti yang sudah diambil tidak bisa di cancel.

Setelah mengambil test antigen di Sheila Medika, kami berangkat Kamis, 1 Juli 2021 pukul 21.00. Harga tes antigen di Sheila Medika ini hanya 99,000-rupiah diskon 10,000-rupiah dengan menunjukkan tiket parkir. Kami memilih test pagi untuk menghindari ramainya antrian test antigen. Proses nya cepat, dan hasil nya keluar setelah 30 menit menunggu.

Kami sengaja mengambil perjalanan malam karena ingin menikmati sunrise di pelabuhan Ketapang. Jalanan pantura lumayan lengang dan kami tiba di pelabuhan pukul 4 pagi. Setelah melewati pengecekan antigen dan tiket penyebrangan, kami menunggu adzan subuh di pelataran parkiran pelabuhan. Oiya, tiket ferry nya bisa dibeli online di aplikasi FERIZY, pembelian tiket minimal 3 jam sebelum keberangkatan.


Sunrise pagi itu indah, dengan hiasan mendung yang menyelimuti gunung Ijen dan raung. Penyebrangan ditempuh selama kurang lebih 40 menit. Sampai di Bali, ada pengecekan kembali antigen dan tujuan bepergian, setelah pengecekan beres, kami memilih jalur utara Bali melewati Singaraja dan Bedugul.

Warung Makan Ayam Guling Budi di Singaraja

Sangat Menggugah Selera

Di Singaraja kami sarapan di salah satu kuliner lokal yang terkenal banget, Ayam Guling Budi. Dengan racikan sambal matah khas bali yang segar, dipadu dengan ayam guling yang gurih, apalagi ditambah dengan bagian kulit ayam nya yang tidak terlalu garing dan berasa smoky nya. Dimakan dengan kuah yang di campur di atasnya menjadikan kenikmatan kuliner ini lengkap!. Kalau dikasi kesempatan untuk ke Bali, WAJIB banget buat mencicipi kuliner ini.


Usai sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Bedugul. Dari sini, saya bergantian menyetir dengan teman saya, Ifal. Medan yang cukup menanjak dan berkelok-kelok sempat membuat saya pusing dan tertidur pulas di tengah perjalanan. Kami tiba di Pura Bedugul tepat sebelum waktu sholat Jum’at. Sembari menunggu Ifal dan Mas Aul selesai sholat jumat, saya melanjutkan tidur saya dan alif asyik dengan handphone nya.

Tiket Masuk ke Pura Bedugul dibanderol dengan harga 30,000 / orang nya. Suasananya sejuk, angin gunung bertiup sepoi-sepoi, menambah syahdu nya suasana pura yang sakral. Pemadangan khas pura yang masuk sebagai logo mata uang 50,000-rupiah sangat memanjakan mata. Pengunjung pura kali ini tidak terlalu banyak, sebagian besar adalah umat hindu yang baru saja selesai kegiatan di pura ini. Entah, atmosfer di pura ini enak sekali, sejuk, nyaman, dan syahdu. Kami sempat berfoto di taman di pura ini, sebelum akhirnya pulang melanjutkan perjalanan menuju destinasi dadakan kami di salah satu pabrik Coklat Vegan di Badung.

POD Vegan Chocolate Factory

Jujur baru kali ini menemukan produk lokal coklat vegan dengan kadar gula yang lumayan rendah tapi tetap enak. Disini ada display mesin pembuat coklat yang sayangnya saat itu sedang tidak berproduksi, namun tetap ada tour guide yang memandu pengunjung untuk mengetahui proses pembuatan coklat. Oiya, saat masuk ke store nya ada diskon 20-70% untuk pembelian coklatnya, berlaku periode tertentu saja sepertinya, karena saya menemukan harga normal saat mengecek di online store nya. Poin plus di store coklatnya, mereka menyediakan tester untuk semua varian coklatnya, sehingga membantu pembeli mencicipi coklat yang akan dibeli.

Stuja Coffee

Perjalanan kami lanjutkan ke Stuja Coffee milik salah satu selebriti, Ayudya bing Slamet, di Kuta Utara. Café ini terletak di pinggir sawah dan memiliki area outdoor yang lebih luas sehingga pengunjung bisa merasakan angin sawah yang sepoi-sepoi. Disini saya mencoba Kopi susu bumi dan ayam samosa nya. Menurut saya pribadi, kopi susu nya biasa saja, susu nya creamy, dengan komposisi espresso nya yang lebih dominan membuat kopi susu ini menjadi tidak terlalu manis dan saya suka. Untuk ayam samosa nya terlalu mahal karena ukurannya yang kecil dan isi satu porsinya hanya 4 biji dengan isian ayam yang sangat sedikit. Untung ambience nya enak, jadi lumayan lah untuk melepas penat di perjalanan. Oh, di stuja café ada mushola yang super duper nyaman, bersih dan wangi, jarang sekali menemukan café dengan fasilitas mushola terbaik seperti ini.

Sepanjang perjalanan dari Gilimanuk ke Singaraja, kami seringkali menemui kedai ayam goreng Jaya Fried Chicken(JFC), karena penasaran kami memutuskan untuk mencicipi JFC sebagai makan malam. Jadi ternyata JFC ini adalah ayam goreng lokal andalan semacam Olive Fried Chicken di Jogja, istilahnya ayam goreng crispy dengan harga yang lebih merakyat. Surprisingly ternyata rasanya enak juga, tidak kalah dengan produk ayam goreng seperti M*D atau K*C dengan harga sangat murah, paket 2 ayam 1 nasi dan 1 minum hanya 22 ribu saja!.

Hari pertama kami di Bali cukup menyenangkan, capek, tapi senang karena bisa menjejakkan kaki di Bali. Namun ada hal yang mengusik hati kami ketika melihat Bali yang begitu sepi dari wisatawan, pariwisata di Bali benar-benar porak poranda di tengah pandemi ini, banyak toko yang tutup, suasana tempat wisata juga sepi dari wisatawan. Bahkan hotel yang kami tempati hanya menerima kami sebagai tamu di hari itu, namun keesokan hari nya kami bertemu 2 atau 3 tamu hotel yang menginap. Kamar yang beroperasi juga kamar di lantai bawah, sangat kontras dengan situasi normal yang mana penginapan ini selalu penuh.

Pengeluaran Hari Pertama dan Kedua 

Sebelum istirahat, kami merancang perjalanan untuk besok, memeriksa wisata mana saja yang masih buka saat PPKM di hari pertama. Kelanjutan cerita dan total budget di part selanjutnya yak!!

You Might Also Like

6 komentar

  1. asiik....
    informatif.... thank you for sharing

    BalasHapus
  2. Huaaa, seru banget... Budget yang dibutuhkan juga gak banyak..

    Bisa dicoba nih, thanks for sharing the info and story Kak

    BalasHapus
  3. Wuih...seru nih model trip kayak gini. Seneng saya. Sayangnya saya nggak diajak jalan jalan he..he..he....Lengkap kulinrnya...keren. salam Sehat dan Selamat beraktifitas

    BalasHapus
  4. Huaaa, jadi ingin ke Bali untuk melepas penatnya hidup di Jakarta!
    Aku jadi ingat waktu itu aku sempat ke Bali naik kereta ekonomi dan setelahnya ngga sadar kalau pada saat itu bakal sampai Gilimanuk hampir tengah malam dan sudah tidak ada kendaraan menuju Denpasar. Walhasil, pasang muka melas ke bapak polisi biar dikasih bantuan, lols!
    Semoga kapan-kapan aku bisa keturutan road trip ke Bali seperti Andin, amin paling serius!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuukk udah, berangkat ke Bali. Kalo udah vaksin, gampang lah main kesana. Kita bangkitkan lagi pariwisata Bali.

      Aamiin, semoga bisa keturutan buat road trip yaah

      Hapus
  5. Naaah aku tuh juga pengeeen mba road trip ke Bali. Ngajakin anak2 dan asisten. Tapi ga jadi2, eh malah pandemi datang. Walo sering ke Bali sebelum pandemi, tapi belum pernah road trip, selalunya kan pesawat. Padahal sbnrnya asik juga tuh kalo bisa road trip, SAMPE tujuan ga perlu sewa kendaraan lagi.

    BalasHapus