I Love You, Om....(?)

09.28.00


For most affairs, this eventually becomes the most fundamental of questions, the only one that matters: Do we love each other more than the lives we already have? 



Aku membuka mataku perlahan, tersenyum melihat wajahnya yang masih lelap tertidur. Garis wajahnya yang keras, kerutan di mata yang semakin tampak bertambah dari hari ke hari dan semua hal tentang dia menjadi candu bagiku. Jemariku terangkat menyusuri setiap lekuk wajahnya yang kecoklatan, berharap waktu berhenti untuk saat ini dan membiarkanku menikmati pagi lebih lama lagi. Aku tidak pernah merasakan perasaan jatuh cinta sedalam ini dengan orang lain. Pertemuan pertama kami terjadi karena temanku, terimakasih kepada temanku yang telah memperkenalkanku dengan dia.

Perawakannya yang tegap, dengan rambut yang terpotong rapi dan garis rahang yang tegas, merupakan kombinasi kesan pertama yang menarik bagiku. Obrolan pertama kami sedikit kaku layaknya interview pekerjaan, seputar identitas dan kesibukan sehari hari. Seiring berjalannya waktu, obrolan kami semakin lepas, seringkali dia tertawa lepas menceritakan pengalaman-pengalamannya yang lucu. Lesung pipit di pipi bagian kirinya semakin menambah daya tarik nya. Di pertemuan selanjutnya, diisi dengan obrolan ringan sampai berat, tentang kegiatan keseharian sampai politik.

Aku suka raut wajahnya yang menggebu-gebu ketika menceritakan tentang ambisinya dan raut wajah kesedihan ketika pada akhirnya dia menceritakan kisah hidupnya. Terkadang, aku melihat matanya berkaca-kaca, aku memeluknya berusaha menenangkan dia, dan aku merasakan dia menangis sesenggukan di pundak ku. Dari yang sejauh apa yang kudengar, hidupnya sudah di atur sejak dia lahir. Dia berusaha lebih keras dari teman-temannya yang lain untuk bisa masuk ke sekolah terbaik di kota nya, selain itu dia juga ditempa dengan latihan fisik yang diberikan ayahnya yang merupakan salah satu pejabat tinggi di Instansi Pemerintahan.

Sejak kecil hidupnya sudah diatur, dan dia tidak memiliki hak untuk menolak keinginan ayahnya yang keras. Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa, tipikal istri yang menuruti semua keinginan suaminya. Sampai pada akhirnya, dia dijodohkan dengan anak perempuan salah satu koleganya. Calon istrinya cantik, pintar, sempurna, begitu dia menilai nya saat awal pertemuan keluarga besar mereka. Tak lama kemudian, mereka menikah dan terbukalah semua keburukan istrinya yang tidak siap dia antisipasi.

Istrinya cenderung cuek, tidak begitu peduli dengan dirinya, hanya memikirkan dirinya sendiri dan pandai sekali bermuka dua. Istrinya tidak menginginkan anak, tidak ingin terlihat ribet dan lusuh karena sibuk mengurus anak. Hingga pada suatu hari, istrinya dinyatakan hamil, dan istrinya semakin benci kepada dia. Sang jabang bayi laki-laki terlahir prematur dan istrinya mengalami baby blue selama beberapa tahun. Kondisi psikologis istri yang tidak stabil dan anak yang baru lahir terpaksa dia titipkan di rumah mertua, rumah orang tua sang istri, karena dia sering dipindahtugaskan keseluruh pelosok Indonesia.

Hingga akhirnya, dia ditempatkan di kota ini, kota Surabaya. Anaknya tinggal di kota kecil di Jawa Barat, dengan mertua nya, sedangkan istrinya mengidap bipolar disorder dan harus rutin mengikuti konseling dua kali tiap minggu. Pernikahan selama 10 tahun itu cukup menjadi beban baginya, setidaknya itu yang kudengar darinya.

Kami bertemu dua kali dalam sebulan. Dia yang membiayai uang kuliahku selama 2 semester terakhir, tanpa aku yang meminta, sebagai ucapan terimakasih kepadaku, katanya.

Tiba-tiba dia membuka mata, membuyarkan lamunan ku tentang cerita awal mula kami bertemu. Ini sudah masuk bulan terakhir sesuai dengan kontrak yang kami sepakati. Entah, bisakah aku tetap profesional menjaga perasaanku di depan nanti.

“Hmmm….pagi sayang,” ujar pria itu. Dia tersenyum dan lesung pipit favoritku itu muncul. Manis.
“Pagi…om,” sapaku. 

Mungkin, untuk sementara kita akan seperti ini, setidaknya sampai kontrak berakhir. Who knows what will happen in the future right?.

You Might Also Like

0 komentar