Acknowledgement

10.59.00

"We're waiting for a glance or a word, some acknowledgement that we are here." 
~ Jeet Thayil

 


Surabaya sore ini mendung, aku memandang kosong layar laptop yang berisikan pekerjaan yang harus kuselesaikan malam ini. Masa karantina virus Corona yang santer di gaungkan tidak menyurutkan niatku untuk nekat menyewa kamar di salah satu hotel di Surabaya pusat, toh kantorku masih masuk seperti biasa, pikirku. 

Sudah 2 jam aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku, masih selesai separuhnya. Sesekali aku mengecek pesan di handphone ku menanti pesan dari seseorang, sebut saja Adam. Kami sudah berjanji akan bertemu malam ini di kamar ini, dan dia termasuk orang yang menggunakan jasaku sebagai teman tidurnya.

Aku menghisap rokok yang tinggal 1 batang ini, hitung-hitung penghabisan karena setelah ini aku sendiri berniat untuk berhenti merokok. Dering notifikasi pesan di handphone berbunyi, memunculkan pesan baru dari Adam.

Aku sampai sana jam 8 malam, mau mampir rumah dulu

Aku mulai mengetik, membalas pesan singkatnya untuk sekedar mengingatkan pesanan tissue yang kuminta dia beli karena di kamar hotel ini tidak disediakan tissue.

Okay, jangan lupa terms and conditions. Oiya, aku nitip tissue ya, di kamar ngga ada tissue

Entah apa yang mengganggu pikiranku hingga akhirnya aku kembali ke jalan ini lagi. Jalan yang sebenarnya mengganggu pikiran dan hati kecilku, namun masih kulakukan karena aku haus akan pengakuan. Pengakuan apa? Pengakuan bahwa aku cukup bisa diterima oleh laki-laki lain. Aneh bukan? Iya, ini efek psikologis ketika aku memutuskan untuk mengakhiri toxic relationship dengan mantanku beberapa tahun lalu.

Aku menikmati pemandangan matahari terbenam dari jendela kamar yang luas ini, tidak kusangka, ada budget hotel dengan pemandangan semenarik ini meskipun fasilitasnya tidak terlalu lengkap. Ruangan dengan ukuran 20m², dengan kamar mandi standar hotel yang cukup besar dan queen size bed lengkap dengan 4 buah bantal besar dan 2 buah bantal kecil, tidak ada toiletries, tidak ada tissue, dan hanya ada air mineral dalam teko kaca besar beserta 2 gelas kosong. 

Cuaca yang sebelumnya cerah, tiba-tiba berubah, gerimis mulai turun membawa seluruh kesedihan yang biasanya kurasakan ketika hujan turun. Aku benci hujan, karena terkadang datang tanpa aba aba, seperti memori pahit yang tiba-tiba datang membuat dada ini sesak kehilangan nafas. Gerimis kecil berubah menjadi hujan deras dengan petir yang menyambar, membuatku semakin sibuk dengan pikiranku sendiri. 

Sampai suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku, sesegera mungkin aku membuka pintu dan mendapati Adam dengan baju nya yang rapih, perawakannya yang tinggi dan aroma parfum vanilla musk yang dia kenakan menguar. Rambutnya agak sedikit basah terkena tampias hujan ketika dia turun dari mobil, katanya.

“Maaf ya, sudah nunggu lama?” tanya Adam.

“Nggak papa, lagian aku sambil ngerjain beberapa deadline kerjaan. Sempat kehujanan?” aku membalas sembari menutup pintu kembali, membiarkan dia masuk.

Kami mengobrol sambil mencairkan suasana. Dia sudah menikah, dan usia pernikahannya baru satu tahun. Pernikahan dengan kekasihnya ternyata tidak seindah yang dia harapkan, itu yang dia ceritakan padaku. Aku tahu, lelaki semacam ini sebenarnya hanya mencari-cari alasan untuk melakukan perselingkuhan saja.

Tak lama, kami mulai bergumul beberapa kali, sampai jam di handphone ku menunjukkan pukul 00.00 dini hari. Kami menonton tayangan di televisi kabel di kamar dengan jemarinya yang mengelus rambutku, dia tiba-tiba bercerita,

“Sebenarnya, istriku baru saja melahirkan anak pertama kita minggu lalu, di kampung halamannya,” ujar dia berhati-hati.

Tenggorokanku tiba-tiba kering, tertegun mendengar ceritanya, dan tiba-tiba rasa sesak di dada itu kembali menyerang. Aku berusaha menyembunyikannya.

“Oh ya? Selamat ya, sudah jadi ayah,” ujarku datar. Aku bisa merasakan helaan nafas panjangnya. Dia merubah posisi duduk.

“Aku pamit pulang malam ini ya, aku gabisa nemenin kamu disini,” kata dia pelan.

“Oh, okay..” aku menjawab datar. Tidak lama setelah itu, dia mulai mengenakan hoodie miliknya tanpa berbicara kepadaku.

“Aku tau kamu tidak butuh uang, tapi setidaknya terimalah ini sebagai ucapan terima kasih,” ujar dia sembari melemparkan gulungan tebal uang seratus ribuan. Aku mengabaikannya, dan memilih diam sambil menonton acara di TV yang sebenarnya tidak menarik. Dia berjalan ke arahku, dan mencium keningku, berpamitan.

Pintu kamar tertutup, dan kamar ini kosong kembali. Beberapa saat kemudian, tangisku pecah. Aku menangis sejadi jadinya, rasa sakit itu muncul lagi, di dada sebelah kanan. Sampai kapan aku harus begini, mencari pengakuan dengan bertemu dan tidur bersama banyak lelaki asing yang kutemui di aplikasi kencan. 

You Might Also Like

1 komentar